Uji Klinis Pengaruh Air Alkali pada Pasien Asam Urat

 

Abstrak
Generasi muda saat ini terancam risiko asam urat. Penyebab utamanya adalah pola hidup, termasuk pola makan dan olahraga yang tidak terkontrol. Cara yang sederhana, aman, dan efektif untuk membantu menurunkan kadar asam urat adalah dengan mengonsumsi banyak air minum. Responden dengan asam urat dipilih sebagai sampel penelitian. Sebanyak 100 responden bersedia melakukan eksperimen. Lima puluh responden meminum air non-alkali dan 50 responden meminum air alkali dengan pH 9, 8 selama 14 hari. Dalam kurun waktu 14 hari dilakukan 4 kali pengecekan. Didapatkan bahwa dengan konsumsi air alkali terjadi penurunan secara signifikan kadar asam urat 5-6 kali dibandingkan dengan responden yang mengonsumsi air non-alkali.

uji klinis milagros untuk penderita asam urat

Pendahuluan

Saat ini, generasi kita terancam risiko penyakit asam urat. Faktor pencetus utamanya adalah gaya hidup, makanan
yang tidak terkontrol, asupan gizi tidak seimbang, alkohol, ditambah dengan kurangnya berolahraga. Penelitian memperlihatkan bahwa laki-laki dengan usia di atas 30 tahun memiliki risiko 2% Iebih tinggi mengalami asam urat dibandingkan perempuan, sedangkan risiko perempuan terjadi di atas usia 50 tahun (Kramer, 2002).

Gejala akan muncul Iebih sering dan Iebih besar jika pasien berusia 20 tahun setelah gejala awal muncul. Penyakit asam urat secara substansial terus meningkat jumjah penderitanya dan tahun ke tahun, terutama karena ada penyakit yang komorbid dengannya, khususnya pada pasien dengan hipertensi dan diabetes (August, 2003).

Untuk itulah pengaturan pola hidup sangat direkomendasikan untuk mencegah munculnya asam urat. Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan tingginya kadar purin di dalam darah. Penyakit asam urat ditandai oleh gangguan linu-linu, terutama di daerah persendian tulang. Tidak jarang timbul rasa amat nyeri bagi penderitanya. Rasa sakit tersebut diakibatkan adanya radang pada persendian.

Radang sendi tersebut ternyata disebabkan oleh penumpukan kristal di daerah persendian. Tingginya kadar asam urat dalam darah juga dapat menyebabkan gout artritis yang merupakan salah satu jenis rematik. Di Indonesia, gout artritis menduduki urutan kedua terbanyak dari penyakit osteoartrits.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar penderita gout artritis mengalami hiperurisemia, yaitu 65% (Hellman, 2015). Hasil penelitian dalam studi yang berkembang di Asia menyimpulkan bahwa kejadian peningkatan kadar asam urat dipengaruhi akibat gaya hidup dan diet yang dibawa oleh kemakmuran yang meningkat.

Asupan diet vegetarian seimbang dengan protein hewani dan konten purin disertai asupan cairan yang cukup dengan buah-buahan dan sayuran, setelah diteliti dapat mengurangi risiko terserang asam urat dibandingkan dengan orang yang memakan segala jenis makanan.

Untuk menjaga agar kadar asam urat darah tetap dalam batas normal, disarankan konsumsi makanan dan minuman yang tidak banyak mengandung purin, seperti daging merah, terutama jeroan, makanan laut, kacang-kacangan, dan alkohol. Terapi medikamentosa saja tanpa disertai kepatuhan diet tidak akan membuahkan hasil pengobatan yang baik karena produksi asam urat tetap tinggi (Robert, 2004).

Banyak hal yang dapat memengaruhi kepatuhan seseorang terhadap diet, diantaranya umur seseorang, jenis kelamin, kepribadian, kondisi kesehatan, pengalaman terhadap kesehatan, Iingkungan, dan pelayanan yang diterima dari fasilitas kesehatan.

Lingkungan sangat berperan dalam kepatuhan klien menjalankan diet. Jika lingkungan mendukung, penderita asam urat akan patuh terhadap dietnya. Seseorang yang menginginkan dirinya dalam kondisi sehat berkeinginan untuk selalu patuh terhadap anjuran petugas pelayanan kesehatan (Rigby, 1994).

Pasien asam urat membutuhkan edukasi yang sederhana untuk mengatasi munculnya asam urat. Mengonsumsi banyak air atau stay hydrate merupakan salah satu cara termudah dan termurah menurunkan kadar asam urat. Penelitian dan Fakultas Kedokteran Universitas Boston, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa minum empat sampai lima gelas air dalam 24 jam sama saja dengan menurunkan 40% faktor risiko terkena serangan asam urat.

Untuk itulah dokter harus banyak menganjurkan cara termudah untuk mengonsumsi banyak air minum di samping meminum obat yang telah diresepkan. Karena dehidrasi merupakan pencetus utama serangan asam urat.
Penelitian Neogi (2009) mengungkapkan bahwa penderita asam urat yang minum sampai 8 gelas sehari mengalami penurunan asam urat sebesar 48% dibandingkan dengan pasien yang minum satu gelas air dalam sehari.

Sedangkan penderita yang meminum setidaknya 5 gelas sehari, kadar asam uratnya menurun 43%. Dalam penelitian tersebut juga terungkap bahwa walaupun pasien mendapatkan resep dan dokter, mereka belum tentu meminumnya. Hal tersebut disebabkan kontrol disiplin dan pasien tidak mampu toleransi dengan dosis yang diberikan. Untuk itulah pencegahan dengan men ingkatkan konsumsi air minum bisa merupak an jalan termudah, aman, dan efektif.

Tubuh kita membutuhkan PH yang seimbang, diperkirakan tubuh kita membutuhkan 7-8,5 PH. Jenis air yang memberikan kebutuhan pH 7 dalam tubuh manusia adalah air alkali. Air alkali adalah air dengan kadar mineral yang sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Air alkali dalam proses konsumsinya mampu menurunkan penyakit degeneratif, terutama yang bersifat asam.

Pola makan yang cenderung non-alkali karena kurangnya konsumsi sayuran dan buah membuat pH darah cenderung ke asam, ke depannya penyakit seperti diabetes ataupun hipertensi menjadi ancaman besar.
Antioksidan dalam air alkali dapat mencegah penyakit yang terjadi karena faktor usia, yaitu penyakit radikal dan ph rendah (lgnacio, Boki oo, iae-Lee, 2012).

Jin (2006) mengungkapkan bahwa air alkali dapat mencegah konstipasi serta menurunkan kadar kolesterol. Penelitian lain yang dilakukan di Korea memperlihatkan bahwa dengan penggunaan air alkali secara terus-menerus atau dalam jangka panjang akan membantu menormalkan kadar glukosa dan tingkat lipid dalam darah (Watanabe, Kishikawa, Sirai, 1997). Apalagi air alkali mampu menurunkan akumulasi lipid dan kolesterol dalam tubuh (Jin, et al 2006).
Itulah mengapa penggunaan air alkali secara berkelanjutan menyebabkan keadaan tubuh menjadi lebih baik (Yang, et al, 2007)

Materi dan Metode

Penelitian dilakukan di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, sejak Agustus hingga November 2015, untuk membuktikan efektivitas air alkali dalam men urunkan kadar asam ürat. Penelitian eksperimen ini memberi intervensi pemberian air alkali dengan pH 9, 8 dan air non-alkali pada responden sebanyak 100 responden yang memenuhi kriteria inklusi.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien dengan kadar asam urat diatas normal yang sudah menjalani terapi medikamentosa sebelumnya serta bersedia menjadi responden penelitian. Selama penelitian yang berlangsung 14 hari, pasien diminta untuk menghentikan terapi medikamentosa agar tidak menjadi bias penelitian. Pasien diberikan informasi penelitian secara jelas dan detil serta menandatangani persetujuan penelitian.

Metode yang digunakan adalah uji eksperimental dengan kelompok uji menggunakan air Alkali (pH 9,8) dan kelompok kontrol dengan menggunakan air bukan alkali (pH 7). Pasien diberikan air yang diujikan tersebut sebanyak 4 botol takar senilai 612 mL perhari atau sebanyak 2.448 mL perhari.

Pemberian air yang diujikan tersebut dilakukan selama 14 hari berturut-turut dengan pemberian sebanyak 4 botol setiap han. Hal ni ditujukan untuk menjaga keteraturan responden dalam meminum air dan menghilangkan angka drop out yang disebabkan air yang diujikan tersebut digunakan oleh orang selain responden atau responden tidak meminum sesuai dengan prosedur yang diujikan.

Penentuan pasien mendapatkan kelompok uji atau kelompok kontrol dilakukan secara acak. Responden mendapatkan nomor urut pendaftaran yang disesuaikan dengan nomor urut sampel yang diujikan. Responden tidak bisa memilih nomor pendaftaran atau nomor sampel sehingga pasien tidak mengetahui termasuk dalam responden di kelompok uji kasus atau uji kontrol.

Kadar asam urat tetap dijaga agar tidak melebihi batas tertinggi selama 14 hari percobaan. Pengukuran kadar asam urat dilakukan pada hari ke-3, hari ke-7, hari ke-10, dan hari ke-14 setelah pemberian air yang diujikan pertama kali. Target responden dibatasi sebanyak 100 orang yang mengikuti uji sampai dengan selesai dan dikelompokkan dalam kelompok uji dan kelompok kontrol secara berimbang. Peneliti hanya mengontrol penghentian penggunaan obat penurun kadar asam urat pada kelompok uji dan kelompok control.

Hasil Uji Air Alkali untuk Penderita Asam Urat

Pada penelitian ini didapatkan total responden 100 orang dengan jumlah responden laki-laki 22 orang dan perempuan 78 orang. Distribusi jumlah masing-masing kelompok sama, yaitu laki laki 11 orang dan perempuan 39 orang untuk setiap kelompok uji. Usia termuda responden 27 tahun dan tertua 75 tahun.

Hasil asam urat dan 50 responden yang diberi perlakuan meminum alkali dengan pH 9, 8 dengan dosis yang ditentukan selama empat hari ternyata mengalami penurunan rata-rata. Nilai rata-rata asam urat responden sebelum pemberian alkali adalah 9,2562 mg/dL. Setelah pemberian alkali untuk pertama kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek pertama responden memiliki kadar asam urat rata-rata 8,096 mg/dL. Ini berarti, turun 1,1602 mg/dL.

Setelah pemberian alkali untuk kedua kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek kedua responden memiliki kadar asam urat rata-rata 7,634 mg/dL, yang berarti turun 1,6222 mg/dL dari rata-rata pasien sebelum diberi perlakuan.

Setelah pemberian alkali untuk ketiga kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek ketiga responden memiliki kadar asam urat rata-rata 7,2163 mg/dL yang berarti turun 2,0399 mg/dL dari rata-rata responden sebelum diberi perlakuan.

Setelah pemberian alkali untuk keempat kali, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek ketiga responden memiliki kadar asam urat rata-rata 6,37 13 mg/dL. Ini juga berarti turun 2,8849 mg/dL dari rata-rata responden sebelum diberi perlakuan.

Dengan demikian, penggunaan air alkali pada responden yang mengalami asam urat terjadi penurunan rata-rata kadar asam urat dan 9,2562 mg/dL menjadi 6,3713 mgldL.
Dengan kata lain, setelah empat siklus minum terjadi penurunan kadar asam urat sebesar 2,8849 mg/dL.

Hal ini diperkuat dengan uji statistik bahwa setelah dilakukan perlakuan sebanyak empat siklus selama 14 hari secara nyata dan signifikan bahwa air alkali berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat (nilai F= 17.709 dengan p-value 0.000).

Lalu dilanjutkan untuk uji Duncan, di mana akan diketahui perlakuan ke berapa yang memberikan hasil yang terbaik. Setelah dilakukan uji Duncan diperoleh pemberian air alkali yang keempat yang berpengaruh terbaik dalam menurunkan kadar asam urat. Ratar ata kadar asam urat dalam subset 6,3713.

Hasil asam urat dan 50 responden yang diberi perlakuan meminum air bukan alkali dengan dosis yang ditentukan selama empat hari ternyata mengalami penurunan rata-rata. Nilai rata-rata asam urat pasien sebelum pemberian bukan alkali adalah 8,654 mg/dL.

Setelah pemberian bukan alkali untuk pertama kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek pertama resp onden memiliki kadar asam urat rata-rata 7,906 mg/dL yang berarti turun 0,748 mg/dL.

Setelah pemberian minuman air bukan alkali untuk kedua kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek kedua responden memiliki kadar asam urat rata-rata 7,503 mg/dL. Artinya, turun
1,151 mg/dL dan rata-rata responden sebelum diberi perlakuan.

Kemudian setelah pemberian minuman air bukan alkali untuk ketiga kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek ketiga responden memiliki kadar asam urat rata-rata 7,081 mg/dL, yang berarti turun 1.573 mg/dL dan rata-rata responden sebelum diberi perlakuan.

Setelah pemberian minuman air bukan alkali untuk keempat kalinya, lalu dilakukan pengecekan asam urat dan didapatkan nilai cek keempat responden memiliki kadar asam urat rata-rata 8,031 mg/dL. Artinya, turun
0,623 mg/dL dan rata-rata responden sebelum diberi perlakuan.

Dengan demikian, penggunaan air bukan alkali untuk keempat kalinya pada responden yang memiliki asam urat terjadi penurunan rata-rata kadar asam urat dan 8,654 mg/dL menjadi 8,031 mg/dL dilakukan perlakuan empat kali pemberian air secara statistik tidak berpengaruh secara nyata dan signifikan terhadap penurunan kadar asam urat.

Penurunan kadar asam urat pada kelompok kontrol ini bersifat fluktuatif, yaitu pada pengukuran ke-1, 2, dan 3 kadar asam urat berangsur turun, sedangkan dalam pengukuran ke-4 kadar asam urat kembali pengalami peningkatan. Fluktuasi kadar asam urat ini membuat tidak bisa dilanjutkan uji Duncan.
Pembahasan

Setelah empat siklus pemberian air bukan alkali pada responden yang mengalami asam urat terjadi penurunan rata rata kadar asam urat dan 8,654 mg/dL menjadi 8,031 mg/dL (penurunan rata rata 0,573 mg/dL).
Kadar asam urat pada pemberian air bukan alkali mengalami fluktuasi dan 8,654 mg/dL setelah 4 hari menjadi 7,906 mg/dL; setelah 7 hari menjadi 7,503 mg/dL; setelah 10 hari menj adi 7,081 mgldL; dan setelah 14 hari menjadi 8,031 mg/dL.

Hal ini dapat disebabkan pemberian air bukan alkali menggunakan kemasan yang sama dengan air alkali sehingga responden meyakini bahwa mereka mendapatkan kelompok uji kasus, yaitu mendapatkan air alkali dengan pH 9,8.
Setelah empat siklus pemberian air alkali pada responden yang mengalami asam urat, terjadi penurunan rata-rata kadar asam urat dan 9,2562 mg/dL menjadi 6,3713 mg/dL (penurunan rata rata 2,8849 mg/dL).

Secara uji statistik, pembenian minuman air bukan alkali sebanyak 4 siklus tidak berpengaruh secara nyata dan signifikan, sedangkan pemberian minuman air alkali sebanyak 4 siklus secara nyata dan signifikan berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat.

Kadar asam urat rata-rata kelompok yang diberi air non-alkali sangat fluktuatif. Hal ini kemungkinan karena faktor sugesti yang diberikan bahwa mereka meminum air alkali. Uji Duncan dilanjutkan pada kelompok alkali untuk penentuan penurunan kadar rata-rata terbaik.

Dihasilkan pada pemberian air alkali yang secara statistik didapatkan hasil yang nyata dan signifikan turun. Uji Duncan menunjukkan bahwa penurunan kadar rata-rata terbaik pada perlakuan keempat dengan subset 6,37 13 dan signifikan. Hal ini membuktikan pengaruh air alkali paling efektif dan bermakna diberikan hingga hari ke-14.

Pada kelompok alkali, antara responden laki-laki dan perempuan terlihat kadar asam urat laki-laki Iebih tinggi dibandingkan perempuan. Cek pertama pada laki-laki sebesar 8,05 sedangkan perempuan 8,21. Cek kedua untuk laki-laki sebesar 7,65 sedangkan perempuan 7,56. Cek ketiga untuk laki-laki sebesar 7,19 sedangkan perempuan 7,27. Lalu pada cek terakhir responden laki-laki sebesar 6,37 dan perempuan 6,36.

Rerata ini terjadi karena laki-laki 90% lebih berisiko terkena asam urat setelah dewasa dibandingkan dengan perempuan. Sedangkan risiko perempuan baru meningkat setelah menopause. Rata-rata responden laki-laki adalah 54 tahun dan responden perempuan adalah 53 tahun.

Wawancara setelah pengukuran hari ke-14 dilakukan pada responden yang meminum air alkali (Milagros) dengan pH 9, 8, respons yang didapat positif, yaitu:

“Badan enak, bisa jalan, ada benjolan jadi kempes, maag berkurang, pipis keluar sepert i kristal tetapi kaki masih nyeri.”

“Badan enteng, buang-buang air Iebih sering, perut tidak kembung.”

“Rasa kopi jadi beda, merokok jadi kurang enak”

“Keringat dingin, ada benjolan kempes.”

“Badan tidak linu-ilnu lagi, badan enakan, kaku-kaku di leher berkurang, lemas, tangan tidak kaku lagi.”

“Badan berasa Iebih enak, buang air besar dan keringetan normal”

“Setelah 14 hari minum air ini baru pertama bab keras, ada timbul alergi pada hari kedua, keluar keriingat dingin, badan terasa enteng, suka sakit kepala (kadang sebelah kanan kadang sebelah kiri, jadi tidak suka air es”

“Badan enteng, perut tidak kembung, hari ke-3 BAB mencret, akhir terapi agak lemas, hari ke-2 pusing, hari ke-6 pusing hilang tanpa obat, kepala berat, kunang-kunang, badan terasa kurus, segar.”

“Lemas, badan enakan, pusing, jadi berkurang minum obat apa saja, nyeri pada tangan berkurang.”

“Badan enteng, jalan Iebih enak, maag berkurang, badan segar, terasa turun berat badan, perut terasa kenyang terus.”

“Kentut-kentut terus, BAB lancar, mual, keringetan, enak di badan, struk menjadi lebih baik maag dan nyeri lutut berkurang.”

“Badan enteng, jadi enak jalan, ada perubahan, badan lebih sehat.”

Kesimpulan

Pemberian air minum pada pasien asam urat melebihi angka kebutuhan cairan harian akan membantu mengurangi kadar asam urat. Hal ini telah dibuktikan dengan memberikan terapi air minum non alkali sebagai terapi tunggal kepada pasien yang telah rutin menggunakan asam urat berpengaruh positif mengurangi kadar asam urat.
Namun, pemberian terapi air minum non-alkali sebagai terapi tunggal ini memiliki nilai fluktuatif. Secara keseluruhan, dalam 14 hari menggunakan air minum non-alkali dapat menurunkan rata rata 0,573 mg/dL kadar asam urat pada pasien.

Sedangkan penggunaan air alkali dengan pH 9,8 sebagai air minum dengan jumlah yang sama selama 14 hari dapat menurunkan 2,8849 mg/dL. Hal ini membuktikan penggunaan air alkali ini lebih efektif menurunkan asam urat 5-6 kali lipat dibanding dengan air non-alkali.

Saran

Pemberian cairan lebih dan kebutuhan cairan harian normal, khususnya dengan pemberian air alkali dengan pH 9,8 yang digunakan dalam penelitian ini, merupakan terapi yang sangat disarankan kepada pasien dengan asam urat. Vaniabel bebas yang dapat dikontrol dalam penelitian ini adalah penghentian terapi medikamentosa yang diberikan dokter kepada responden.

Sedangkan variabel bebas lain dianggap konstan. Padahal, masih banyak pencetus tingginya kadar asam urat, seperti gaya hidup responden yang perlu dikontrol.

Sumber: Jurnal Medika No 02 Februari 2016

Summary
Uji Klinis Milagros di Jurnal Medika untuk Penderita Asam Urat
Article Name
Uji Klinis Milagros di Jurnal Medika untuk Penderita Asam Urat
Description
Hasil uji klinis milagros untuk penderita asam urat. Penggunaan air alkali dengan pH 9,8 sebagai air minum dengan jumlah yang sama selama 14 hari dapat menurunkan 2,8849 mg/dL. Hal ini membuktikan penggunaan air alkali ini lebih efektif menurunkan asam urat 5-6 kali lipat dibanding dengan air non-alkali.
Author
Publisher Name
Milagros Indonesia
Publisher Logo